Cibuyutan Yang Terlupakan
Jam kuliah yang masih tersisa sampai nanti malam terpaksa aku tinggalkan. Meninggalkan ruangan kuliah yang dingin dan bangku yang empuk hanya untuk bersenang-senang dan nongkrong itu merupakan hal biasa yang dilakukan oleh setiap mahasiswa, tapi jarang sekali mahasiswa yang meninggalkan perkuliahan untuk pengabdian demi tercapainya Indonesia yang lebih baik. Mungkin jiwa-jiwa sosial mereka belum tersentuh, mereka hanya mementingkan intelektualnya, atau mungkin cara berfikir mereka yang berbeda. Mereka berfikir mahasiswa dahulu hanya menggunakan otot untuk mengubah dunia, tetapi mahasiswa sekarang berfikir bagaimana saya bisa lulus cepat, mendapat pekerjaan dan baru mengubah dunia dengan intelektualnya. Tidak ada yang harus disalahkan karena cara berfikir dan sudut pandang seseorang berbeda-beda.
Dibawah guyuran hujan setelah sholat isya kami berkumpul kembali untuk keberangkatan, satu persatu dari kami menaiki mobil yang sudah tersedia, mobil disini bukanlah mobil bis pariwisata melainkan mobil tronton yang biasa membawa tentara. Mobil ini sangat popular dalam acara kampus, karena ongkos sewanya yang murah dan mobil ini bisa memuat sampai 30 orang, ya hitung-hitung mengirit biaya pengeluran. Selama perjalanan banyak terlihat industri-industri besar yang berdiri, sejenak aku berfikir sebenarnya aku mau kemana kunjungan industri ataukah pegabdian untuk daerah tertinggal?, masa iya didaerah industri-industri besar ini masih ada daerah yang tertinggal?, apakah industri-industi ini tidak memperdulikan lingkungan sekitar? Sebuah tanda tanya besar muncul dalam pikiran ku, tidak lama berselang berhentilah mobil yang aku tumpangi didepan sebuah masjid, masjid Jamie nurul huda kp. Karang mulya desa selawangi, kec tanjug sari, kab bogor. Sepertinya kita sudah sampai pada tempat transit, tanpa menunggu lama aku pun turun dari mobil itu, ku taruh tas dan bawaanku didalam masjid lalu masih ada tugas yang harus dikerjakan yaitu menurunkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk pekerjaan besok dari mobil tronton.
Malam yang dingin seakan-akan memejamkan mata kami semua, karena kami tau esok hari kita akan berkerja keras. Akhirnya mentari pagi perlahan mulai keluar dari sarangnya dan ayam-ayam berkokok bersahutan menandakan pagi telah tiba, tidak lama kemudian beduk dibunyikan akupun bergegas bangun untuk mengambil air wudlu untuk sholat, tetapi air di masjid itu tidak keluar, kata salah seorang warga sudah beberapa hari ini air dari gunung tidak mengalir sehingga kami harus mencari sumur untuk mengambil air.
Selepas sholat subuh akupun istirahat sambil merapikan barang bawaan dan mengisi perut dengan sepotong kue, agar mempunyai tenaga ketika berjalan menuju tempat tujuan karena jalan yang ditempuh tanjakan dan turunan yang masih tanah apalagi baru diguyur hujan pasti jalan akan semakin licin.
Waktu menunjukan pukul 06.00 sebelum berangkat kami berkumpul untuk briefing dan senam pagi di sebuah tanah lapang depan sekolah Madrasah Tsanawiwah (MTS) sekolah yang setara dengan SMP. Perjalanan menuju kampung cibuyutan dimulai , setiap dari kami harus membawa satu ikat paralon yang dalam satu ikat itu berisi 5 paralon yang akan digunakan untuk pembuatan saluran air. Dengan berpedoman pada motto FT Tangguh aku bersama temanku Khairudin sepakat untuk membawa 4ikat paralon, dalam perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang masih asri, tidak jarang kami selalu berhenti untuk berfoto-foto sambil menikmati indahnya pemandangan yang sulit ditemukan di ibukota Jakarta.
Selamat datang di kota cibuyutan.
Setelah berjalan hampir 3 jam dengan pemandangan pohon-pohon dan persawahan yang hijau itu pun berubah kami melihat mulai terjadi adanya tanda-tanda kehidupan, banyak rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu yang beratapkan anyaman daun serta kandang-kandang kerbau disamping rumah itu. Sepertinya kita sudah sampai dikampung cibuyutan nih, sahut khairudn sambil tersenyum kelelahan. Sesampainya disana aku pun langsung istirahat sejenak untuk melemaskan otot-otot yang dari tadi aku paksa untuk berkerja keras, tidak lama kemudian terdengar suara dari panitia untuk berkumpul melaksanakan apel. Kami berbaris per tim tugas yang telah diberikan sebelum keberangkatan, ada 5 tim tugas rehabilitasi sekolah, pembuatan saluran air, pemberdayaan siswa, dakwah kampung serta sosialisasi & sensus warga, akupun mendapat tugas di tim sosialisasi & sensus warga. Apel pun dimulai didepan sudah ada ketua RT dan guru-guru sekolah dikampung ini, seperti layaknya upacara bendera aku pun mendapat tugas untuk mengibarkan sang saka merah putih lalu sambutan oleh ketua RT dan guru-guru sekolah dikampung ini yang intinya “selamat datang dikota kami”, warga setempat menyebutnya kota cibuyutan, mungkin karena jaraknya yang hanya 80km dari ibukota Jakarta. Walaupun letaknya ada dipinggiran kota metropolitan, kota metropolitan yang kata orang-orang adalah kota yang sudah maju, tempat untuk mencari uang dan segala sesuatu ada disana, tetapi tidak untuk desa cibuyutan.
Potret negeriku
Setelah sholat dzuhur dan makan siang waktu seakan terus berjalan dan menunjukan pukul 13.00, ini adalah saatnya tim mulai menjalankan kewajibannya, semua tim berdiskusi dan membentuk tim-tim kecil untuk pembagian tugas. Sosialisasi dan sensus warga itu adalah tugasku, mungkin dari sini aku bisa banyak mendapatkan informasi mengenai desa ini.
Terdapat 80 rumah di kampung cibuyutan ini, rata-rata yang tinggal disini adalah keluarga besar, maksudnya rumah anak dan orang tua itu berdekat-dekatan jarang ada yang keluar dari kampung ini setelah ia menikah, dan setiap keluarga umumnya mempunyai anak lebih dari 3. Sulitnya mencari pekerjaan dengan ijasah SD membuat anak perempuan yang sudah umur 13 tahun dinikahkan olehorang tua, kata salah seorang warga “ya mau gimana lagi, mau meneruskan ke SMP jalannya jauh dan tidak punya biaya untuk melanjutkan pendidikannya, ya sudah jalan satu-satunya dinikahkan saja”.
Didesa ini tidak ada aliran listrik sehingga pada malam hari desa ini gelap gulita tetapi banyak warga yang memakai genset atau solar cell untuk penerangan dan itupun tidak digunakan semalaman hanya sekitar pukul 19.00-21.00 karena mahalnya bensin yang digunakan, tidak jarang warga yang hanya menggunakan lampu teplok, karena didesa ini rata-rata mata pencahariannya hanya sebagai petani.
Hanya ada satu sekolah didesa ini yaitu madrasah ibtidaiyah (MI) sekolah yang setara dengan SD, madrasah ibtidaiyah miftahussolah itulah nama sekolahnya, bangunan itu seperti bilik bambu, temboknya terbuat dari kayu yang sudah mulai terlepas membuat pembelajaran terganggu karena sering sekali binatang-binatang ternak warga masuk ke dalam kelas, lantai yang masih tanah membuat kelas tidak nyaman dengan debu-debu yang berterbangan, genting-genting yang sudah bergeser memberikan pancaran sinar masuk ke dalam kelas, tidak bisa dibayangkan ketika hujan turun. Tetapi senyum anak-anak ini yang membuat aku kuat untuk menjalani hidup, janganlah melihat keatas terus tetapi harus ingat masih ada orang-orang yang dibawah kita. Menurut pak mista salah satu guru disekolah itu, dua tahun terakhir proses belajar mengajar tetap berlangsung, sebelumnya sekolah sering ditutup dikarenakan tidak adanya guru yang mau mengajar, serta jalan menuju sekolah yang sulit dan tidak adanya gaji guru.
Mata air yang sangat jauh membuat desa ini sulit untuk mencari air, sangat jarang warga yang menyambung selang dari mata air sampai kerumah untuk keperluan mandi,cuci dan kakus. Ada seperti pancuran yang mengalir dari atas, tetapi air itu terlihat kecoklat-coklatn mingkin sudah terkontaminsi dengan limbah emas, karena diatas sana terdapat tambang emas.
Dan dari setiap warga yang rumahnya ku datangi harapan mereka adalah :
- · Mereka ingin kampung ini ramai,
- · Listrik bisa masuk,
- · Akses jalan diperbaiki,
- · Pendidikan yang lebih baik,
- · Air bisa sampai ke rumah warga
Tidak terasa hari mulai sore, sebelum ke tempat istirahat aku singgah di mushola untuk melaksanakan sholat ashar, ternyata tim pembuat saluran air sudah bisa menyalurkan air dari atas, kalau begini tidak susah-susah mencari air untuk mengambil air wudlu.
Malam yang bertabur bintang
Serangkaian acara tidak pernah terputus, setelah sholat maghrib tim dakwah kampung mengadakan acara di mushola yang dihadiri oleh warga sekitar untuk menanamkan nilai-nilai agama dan mengajak warga untuk menghidupkan mushola ini, kak asep adalah yang bertugas memberikan ceramah kepada warga sekitar.
Gelapnya malam tidak terasa karena masih ada cahaya-cahaya bintang yang menemani. Malam semakin larut membuat kami bingung mau berbuat apa, dan akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Ditemani suara jangkrik dan tokek kami pun tertidur, malam ini terasa sangat panjang, sesekali aku terbangun dan melihat jam, rasanya ingin sekali cepat-cepat pagi. Setelah sholat subuh, akupun berjalan-jalan mengelilingi kampung ini untuk melihat pemandangan yang masih asri dan mencari udara segar.
Perjalanan pulang
Raut wajah sedih terlihat pada anak-anak SD, kareana kampung mereka akan menjadi sepi kembali, tetapi waktu terus berjalan sehingga kami harus pulang. Acara pelepasan pulang berlangsung diikuti dengan sambutan ketua RT dan panitia. Dibawah guyuran hujan kami pun berjalan menuju tempat transit, tetapi dalam hati kami, pengabdian itu tidak hanya sampai disini masih banyak yang harus dibenahi di kampung ini, insya allah kita akan datang kembali.
Niko prayogo
7020







