Thursday, April 26, 2012

Pemain ke-12




Ketika mendengar kata persija seolah yang terpikirkan oleh ku adalah jakarta, jakmania dan bambang pamungkas.
persija merupakan tim kebanggaan ibukota Jakarta, karena tim yang berjuluk macan kemayoran ini lahir dan besar di jakarta, tidak heran kalau persija mandapat tempat dan dukungan dana yang besar oleh gubernur Jakarta dibandingkan adik tirinya yang berada di utara.
Jakmania merupakan  pemain ke-12 dari persija, karena  jiwa loyalitas dan totalitas yang tidak pernah lelah mendukung persija baik kandang maupun tandang, Jakmania merupakan supporter sejati yang  rela mati demi kemajuan sepakbola negeri ini.
Bambang pamungkas yang mempunyai panggilan akrab bepe, merupakan kapten sekaligus icon dari persija. kemampuannya dalam menggiring bola dan mengorganisasi pemain dalam pertandingan membuat banyak jakmania yang kagum kepadanya termasuk saya.
Dari kata-kata yang terpikirkan inilah yang membuat saya mencintai persija, ya walaupun saya bukan orang Jakarta dan hanya tinggal dipinggiran Jakarta tetapi bagi saya persija sudah mempunyai tempat dihati.
Banyak yang melarang saya untuk ikut dalam supporter sepakbola, Saya tau mengapa mereka melarang saya untuk ikut seperti ini. Mungkin menurut pandangan mereka jakmania ataupun supporter-supporter sepakbola lainnya itu hanya membuat aksi-aksi anarki yang merusak citra sepak bola negeri ini, tetapi dangan tersenyum saya mengatakan kepada mereka bahwa tindakan-tindakan anarki itu memang tidak dapat dipungkiri. Adu gengsi yang membuat semua orang menginginkan tim kesayangannya dapat memenangkan pertandingan. Tetapi semua itu bisa diredam, masih banyak kok supporter-supporter yang mempunyai hubungan tali persaudaraan antar supporter misalnya, jakmania banyak memiliki saudara seperti Pasopati, LA mania, Aremania, Delta mania, Brajamusti, singa mania, Maczman dan masih banyak lagi, saat persija bermain away ditempat mereka jakmania selalu disambut hangat seperti halnya saudara yang sudah lama tidak bertemu. Dari tali persaudaraan inilah mereka mempunyai satu tujuan yaitu untuk kemajuan sepak bola negeri ini.
supporter sejati itu tidak akan membuat tim kesayangannya mendapatkan kerugian, banyak kerugian yang didapat jika supporter melakukan tindakan-tindakan anarkis. Misalnya, tim harus menggelar laga kandang tanpa penonton, menggelar laga kandang dikota lain dan yang lebih parah lagi supporter tersebut akan dihapuskan serta tidak boleh memakai atribut tim saat pertandingan berlaga, seperti rival kami yaitu “Bonek mania ”. sebenarnya mereka yang melakukan tindakan-tindakan anarki itu adalah supporter liar yang tidak memiliki Kartu Tanda Anggota dan hanya ingin merusak ataupun mengadu domba dengan supporter lain.
“ Bolehlah kita adu gengsi dilapangan , bolehlah kita bermusuhan dalam pertandingan, tetapi diluar pertandingan kita adalah saudara ”.
Niko Prayogo
7020               

Monday, April 23, 2012

Mengabdi Untuk Pendidikan Yang Lebih Baik.


Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju khususnya dalam bidang ekonomi, membuat banyak orang terlena akan perkembangannya dan sering kali melupakan ataupun mengabaikan hal-hal yang terjadi di lingkungan sektarnya. Ekonomi mampu mengalihkan dan bahkan menghipnotis kesadaran seseorang terhadap kondisi lingkungan sekitarnya, terhadap diri sendiri dan khususnya kepada calon penerus bangsa. Secara tidak langsung kondisi ini menuntut khususnya dalam dunia pendidikan untuk bisa menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kualitas dan kemampuan yang cukup agar bisa bersaing dengan bangsa lain.

Ekonomi yang semakin maju dan pendidikan yang tidak merata mengakibatkan banyak anak-anak yang putus sekolah, bukan karena mereka bodoh melainkan orang tua mereka tidak mampu membayar biaya pendidikan yang sangat mahal. Disini kita sebagai mahasiswa di tantang untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ke 3 yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Miris mendengarnya, ketika seorang sahabat saya memberikan informasi kegiatan kampus mengenai pengabdian kepada masyarkat dengan menjadi seorang guru, dan jawaban yang keluar dari mereka adalah : ah buat apa ikut itu, pasti gak dapat uang lalu apa keuntungan yang akan kita dapat dengan mengikuti kegiatan itu ? dari kondisi inilah saya berfikir , bahwa kemajuan zaman yang semakin maju ini yang dapat menghipnotis kesadaran seseorang, zaman sekarang guru itu selalu di jadikan profesi sebagai mata pencaharian bukan sebagai pengabdian, karena mereka menganggap bahwa pengabdian itu hanya seprti budak, yang bisanya disuruh-suruh dengan gaji yang tidak sebading.
Ya walaupun tidak dapat uang, tetapi sebenarnya banyak keuntungan yang kita dapat dengan mengikuti kegiatan itu, kita akan mendapatkan pengalaman, dapat  mengetahui sifat-sifat anak, dapat mengevaluasi cara mengajar kita dan ilmu kita pun akan bertambah tidak akan berkurang, Karena ilmu itu di ibarat kan seperti pisau, jika pisau itu selalu di asah lama-lama pisau itu akan tajam tetapi jika pisau itu tidak di asah pisau itu akan berkarat dan tidak tajam.

Menurut saya pengabdian itu adalah upaya seseorang dalam memberikan sesuatu, baik itu dalam bentuk moril maupun materil dengan hati yang tulus ikhlas tanpa adanya rasa pamrih, bukan seperti budak yang hanya bisanya disuruh-suruh, karena kita sudah menanamkan nilai ikhlas didalamnya.

Bagi mereka yang memiliki akhlak yang mulia dan nilai-nilai spiritual yang kuat, mereka yakin bahwa pengabdian menjadi seorang guru itu adalah tugas yang sangat mulia yang pahalanya selalu mengalir  karena telah mengajarkan anak didiknya dari yang mereka tidak tahu menjadi tahu dan bagi mereka semua itu tidak bisa diukur dengan uang.

Oleh karena itu marilah kita mensatukan potensi-potensi yang ada untuk bisa menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kualitas dan kemampuan agar bisa bersaing dengan bangsa lain, demi kemajuan pendidikan yang lebih baik.
Kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi.

  Niko Prayogo
Pend Teknik Elektronika ‘09