Semua
ini seperti mendapatkan kado yang tak terduga, berawal saat aku dan seorang
teman ku untuk pergi kekantin kampus, seperti biasa dan tak lupa untuk menyapa
teman-teman lain yang sedang asyik nongkrong, dengan nada bercanda sambil
bertanya sedang apa sih, kayanya sedang ada sidang paripurna nih..
Salah
seorang dari mereka memberi tahu tentang apa yang sedang dibicarakan dan
menawarkan untuk ikut dalam pendakian ke gunung semeru, kurang 2 orang nih..
apa ke semeru, boleh juga tuh.. sejenak aku berfikir dengan ajakan itu, dalam
anganku terfikirlah sebuah cita-cita dan mimpi, aku ingin menjadi orang
tertinggi, tertinggi dalam segala hal seperti layaknya gunung semeru,
sebelum aku menjadi orang yang tertinggi dalam segala hal aku ingin
menaklukan dan berdiri diatas gunung tertinggi dipulau jawa,.
Waktu
terasa sangat lama dan tidak sabar untuk menunggu hari keberangkatan, setiap
hari dan setiap menyalakan laptop tak lupa aku sempatkan untuk membaca
artikel-artikel dan men search tentang keindahan di puncak tertinggi itu,
seperti hal nya orang yang sedang jatuh cinta, sebelum tidur selalu
membayangkan keindahannya dan aku sedang bermain–main disana sampai–sampai
semua yang ku bayangkan terbawa dalam mimpi,.
Seminggu
sebelum keberangkatan ini adalah saat pekan UTS, minggu-minggu inilah yang
menggoyahkan semangatku untuk bisa mencapai impian yang telah lama aku
inginkan, karena masih ada mata kuliah yang belum mengadakan UTS dan fikirku
aku tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah ku perbuat dengan dosen itu,
ada satu dosen yang sangat aku hormati dengan semua mata kuliah yang beliau
ajarkan sangat aku senangi, walaupun kata teman-teman ku dialah dosen yang
dingin, dengan sifatnya yang dingin itulah yang menjadikan tantangan bagiku,
dan dengan tak terduga akhirnya beliau memberikan UTS nya pada hari yang tepat
dan saat itu juga semangatku bangkit untuk mencapai impian ku,.
Hari
yang ku nantikan pun telah tiba, tak lupa aku sempatkan untuk datang kerumah
ayah dengan tujuan untuk meminta izin darinya, hari itu banyak hal yang
mengganggu ku untuk ikut dalam perjalanan, karena sebelum berangkat aku harus
kuliah dan mengikuti seminar robot agar aku bisa mencapai mimpi-mimpi ku yang
lain, dengan mata yang masih ngantuk karena semalaman belum tidur mengerjakan
deadline project yang harus dikumpulkan, untunglah semua itu sudah terencana
dengan baik dan akhirnya aku pun ikut dalam perjalanan ini..
Perjalanan
kali ini yang ikut hanya 11 orang dari yang semula 13 orang, angkatan ’09 ada 4
orang dan angkatan ’10 ada 7 orang.
Perjalananan
panjang ini dimulai dengan menaiki kereta MATARMAJA yang klo ga salah artinya
itu malang, blitar, madiun, jakarta. Aku dan teman-teman mendapatkan bangku
yang berhadapan dan untungnya ada dua teman kami yang tidak bisa ikut
dikarenakan urusan negara, wah makin lega saja bangku ini, aku berada di
gerbong 5 dan angkatan ’10 berada di gerbong 1. Perjalanan dari jakarta ke
malang kurang lebih memakan waktu 18 jam itu pun klo ban nya ga bocor, kata
baehaqi. Didalam perjalanan semua menunjukan perasaannya ada yang galau sama
gebetannya, ada yang mikirin kelanjutan dengan pacarnya gara-gara putus
nyambung dan ada juga yang nge gombalin cewek lewat sms, pokoknya komplitlah,.
Setelah
melewati malam yang dingin dan perjalanan yang sangat panjang, akhirnya pagi
pun menyambut kedatangan kereta kami di stasiun malang,. Kita sudah sampai
malang nih, dengan bercanda dan sambil mengeluarkan sebuah Kartu tanda anggota
yang tak lain adalah kartu jakmania karena aku berfikir bahwa jakmania dan
aremania itu salam satu jiwa, seperti halnya ketika sebuah saudara ada yang
tersakiti saudara yang lain akan selalu membantunya. aku bicara dengan
teman-teman ku, mungkin dengan kartu ini membuat kita mudah berada di kota
ini..
Dari
stasiun malang kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju tumpang, sebuah
tempat transit untuk melanjutkan perjalanan menuju semeru dengan menggunakan
jeep sekaligus tempat untuk membuat perizinan. Karena pendakian kami bersamaan
dengan adanya suatu acara dari salah satu sponsor peralatan hiking perizinan
kami yang dari independent pun di persulit, yasudahlan sambil menunggu rapat
dari petinggi – petinggi yang punya wewenang disana lebih baik aku dan teman ku
berjalan mengitari indahnya daerah ini sambil mencari masjid terdekat untuk
sholat, di dalam masjid banyak sekali tulisan-tulisan yang membuat aku untuk
berfikir dua kali.
setelah
menjalankan kewajiban aku pun melanjutkan perjalanan, tak disangka dari tempat
transit ini ada sebuah marka jalan yang menunjukan candi, ah Cuma 200m nih ayo
kita ikuti, rupanya nama nya candi jago yang didirikan pada masa kerajaan
singasari, dan tak lupa setiap ada moment dan pemandangan yang bagus aku selalu
mengeluarkan kamera, sekalian gaya dikit layaknya seperti seorang selebritis.
Setelah
lelah mengelilingi tumpang aku pun kembali untuk melihat keadaan di lokasi
jeep, ngomong-ngomong mobil jeep aku jadi terfikir untuk bermimpi mempunyai
mobil ini. Sesampainya ditempat jeep rupanya belum dapat izin keberangkatan
juga. Setelah menunggu ber jam-jam, hari pun sudah hampir sore dan supir jeep
pun datang dengan membawa kabar gembira bahwa kita sudah mendapat izin untuk
berangkat tapi tidak sampai disini, kita pun harus menunggu lagi dipos tumpang
untuk perizinan pendakian, ah sesulit itukah hanya untuk menjadi orang
tertinggi,.
Setelah
hampir satu jam menunggu di bawah gerimisnya hujan kami pun mendapat perizinan
untuk pendakian ya walaupun hanya sampai kali mati, tapi apapun rintangan dan
masalah yang kan ku hadapi, aku harus sampai puncak dan menjadi orang tertinggi
di jawa,.
Perjalananpun
di lanjutkan, perjalanan dari tumpang menuju ranu pani kurang lebih 2 jam itu
pun klo tidak ada masalah, ya namanya juga masalah bisa datang kapan saja, aku
memilih duduk dibelakang dibandingkan berdiri, karena biar bisa melihat semua
keindahan yang di sajikan. Pemandangan bromo yang yang menakjubkan dan suku
tengger yang ramah membuat aku ingin turun dari mobil ini, untung nya ada
sebuah jeep didepan mobil kami yang ban nya bocor, dengan jalan yang sempit
terpaksa mobil yang kami tumpangi pun harus berhenti. Tanpa basa-basi aku pun
langsung turun dari mobil dan menikmati keindahaan gunung bromo,.
WELCOME TO RANU PANI
setelah
menempuh perjalanan panjang akhirnya kami pun tiba di pos pertama, pos ranu
pani sayangnya kami sampai pos ranu pani sudah malam sehingga tidak bisa
merasakan keindahan danau nya, ah mungkin besok atau setelah turun dari puncak
aku bisa merasakan keindahannya,.
Rasa
penantian dan tidak sabar menghantui pikiran ku untuk melanjutkan ke pos
berikutnya yaitu ranu kumbolo, aku ingin cepat-cepat sampai sana melihat
keindahan esok pagi di ranu kumbolo. Tapi rasa penantian itu pun berubah
menjadi sebuah emosi karena teman-teman ku sudah kelelahan dan tertidur, dari
pada rasa emosi ini terus memuncak aku putuskan untuk keluar dan mencari
perapian untuk menghangatkan badan, terlintas sebuah pemikiran seperti ada yang
membisikan ku, kamu tidak boleh egois kamu itu datang kesini bersama-sama dan
pulang pun harus bersama, lain hal nya jika kamu datang sendiri kamu bebas
melakukan apapun yang kamu mau tanpa ada yang menghalangi dan mengganggu mu,
lagi pula jalan menuju ranu kumbolo itu sangat jauh dan memakan waktu yang lama
belum lagi jalan yang licin sehabis di guyur hujan dan kanan kirinya jurang,
dari sini lah aku putuskan untuk tidak mempermasalahkannya lagi aku datang
kesini untuk bersenang-senang dan merefresh otak ku yang telah mengebul setelah
melaksanakan UTS. Tak lama berselang ada mas-mas yang datang dan duduk
disebelah ku, percakapan pun dimulai..
+
Dari mana mas :: saya dari bali ..
+ Ya
lumayan deket lah, pikir ku ..
+ Kok
lum berangkat mas :: ini saya lagi nunggu teman biasa kenal di facebook dia mau
kesini bareng..
- Lah
kamu sendiri lum berangkat :: besok kali mas sekarang anak-anak udah pada
kelelahan dan tertidur, pengennya sih berangkat sekarang tapi mau gimana lagi..
- Ya
bagus lah, gitu-gitu juga teman kita, coba klo saya ga setia kawan mungkin
teman-teman saya yang belum datang sudah saya tinggal..
Ih
sadis nih omongan, sepertinya malam ini banyak banget malaikat yang menghantui
ku, coba bayangkan yang baru kenal di facebook dan belum pernah ketemu aja udah
bisa bilang kaya gitu,.
Setelah
percakapan yang panjang lebar dan kesana kemari aku pun aku pun memutuskan
untuk tidur.
Tak
terasa pagi pun datang setelah sholat akupun langsung berjalan mengelilingi
ranu pani, dengan udara yang masih segar dan embun pagi yang berjatuhan di
dedaunan membuat aku betah berada di sini. Mentari pagi pun datang menyinari,
aku pun langsung mem packing barang-barang untuk melanjutkan perjalanan ke ranu
kumbolo,.
Perjalanan
dari ranu pani ke ranu kumbolo itu memakan waktu 4 jam, perjalanan yang
menguras tenaga dan setiap kali ada pos atau pun tempat yang sekira ada
pemandangan yang bagus kami pun berhenti untuk minum-minum dan ber foto-foto,
terfikir sejenak mungkin inilah yang akan ALLAH berikan kepadaku sehingga aku
di suruh untuk menunggu berangkat pagi, dengan berangkat pagi aku bisa melihat
pemandangan-pemandangan yang indah dan bisa merasakan kenyamanan teman-teman
yang layaknya seperti saudara.
Dengan
langkah yang tertatih-tatih dan nafas yang ngos-ngosan tiba-tiba dari setelah
tikungan ada sebuah dorongan semangat baru untuk cepat-cepat sampai ke sana, ya
tidak lain pemberi semangat itu adalah ranu kumbolo, terlihat dari atas bukit
air nya yang hijau dengan di kanan dan kirinya bukit-bukit, subhanallah ya ini
adalah kebesaran mu dan inilah yang dinamakan surga dunia,.
RANU KUMBOLO
Terlihat
dan terbaca “selamat datang di ranu kumbolo” jadi ini lho yang dari kemarin aku
impikan, bermain, menikmati dingin nya air dan bersantai di pinggir ranu
kumbolo. Sepertinya kita harus bermalam disini untuk menikmati sunset dan
sunrise di ranu kumbolo. Tiba-tiba badan dan tubuh ini terasa lemas, kepala
terasa sakit dan tak tahan dengan semua ini aku langsung berjalan ke posko
untuk beristirahat, rasa ingin bermain aku tinggalkan dahulu yang penting aku
sudah berada di ranu kumbolo, masih banyak waktu untuk bermain disini,.
Tak
terasa aku pun sampai tertidur sampai 2 jam untungnya seorang teman ku mencari
dan membangunkan aku, kalau tidak dibangunkan malah keterusan tidur tuh soalnya
mimpinya lagi bagus eh tapi belum sampai endingnya udah dibangunin jadi ga seru
deh, tapi tidak apa-apa dengan begitu aku bisa mempunyai waktu untuk menikmati
indahnya ranu kumbolo di sore hari,.
Setelah
menikmati dinginnya air ranu kumbolo aku pun ditantang oleh temanku untuk
menaiki tanjakan cinta, tanjakan cinta ini berada dididepan ranu kumbolo yang
katanya tanjakan cinta ini memiliki mitos kalau kita bisa menaiki tanjakan ini
tanpa berhenti dan tanpa menengok ke belakang apa yang kita ucapkan akan
terwujud, ah semua ini hanya mitos bagiku kalau emang udah jodoh juga ga kemana
dan semua itu tergantung dari usaha kita. Setelah sampai ditengah tanjakan ini
nafasku sudah ngos-ngosan padahal ga bawa apa-apa tapi dari sini aku mendapat
pelajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan itu tidak mudah,
kita harus bersusah-susah dulu baru bersenang-senang kemudian..
Malam
yang bertaburan bintang, udara yang dingin dan ditemani kopi hitam yang panas
menjadikan malam ini terasa panjang. Kami semua berkumpul dipinggir danau untuk
bertukar pikiran dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang telah di
hadapi sambil menikmati alunan musik dari jamaica (reggae),.
Pagi
yang indah pun datang, tapi sayangnya sunrise yang ditunggu-tunggu letak nya
tidak tepat mungkin karena perputaran bulan yang menyebabkan mataharinya
berpindah tempat. Setelah sarapan dan packing kami pun melanjutkan perjalanan
menuju kalimati, karena di kalimati tidak ada air dan sumber airnya sangat jauh
kami pun berinisiatif untuk membawa air sebanyak mungkin dari ranu kumbolo
untuk persiapan agar tidak terjadi apa-apa disana.
Dari
kali mati ini sudah terlihat gunung tertinggi di pulau jawa, gunung yang akan
aku taklukan, dalam hati aku bicara “aku harus bisa berada disana, di puncak
tertinggi mahameru” sambil menunjuk ke atas..
Setelah
sampai kalimati rupanya kita tidak boleh camp disini, karena di kalimati sedang
ada acara yang diadakan oleh sponsor yang hanya mengutamakan keuntungan tanpa
melihat sisi lain dari pendaki independent dan gara-gara sponsor inilah yang
membuat perizinan kita dipersulit. Kita bisa saja camp di kali mati tapi kalau kita
camp disini kita tidak bisa melanjutkan pendakian sampai puncak, karena nanti
malam ranger-ranger sudah bersiap untuk menghadang para pendaki, oleh sebab itu
jika kita mau mendaki sampai puncak kita berjalan lagi kurang lebih 1 jam untuk
camp di arcopodo.
Dengan
tekat dan semangat untuk mencapai mahameru apapun itu akan aku lakukan, jalan
yang terjal dengan pasir-pasirnya dan dikelilingi jurang membuat aku harus
berhati-hati dalam melangkah karena daerah ini adalah rawan longsor, sesekali
aku istirahat untuk mengatur nafas, setapak demi setapak akhirnya aku pun
sampai di arcopodo sambil menunggu yang bawa tenda datang aku dan yang lainnya
membuat penampungan air karena kabut mulai datang dan cuacanya mendung.. Hujan
pun turun tapi yang bawa tenda tak kunjung datang dalam hati ingin berkata
“yes.. kapan lagi main hujan-hujanan diatas gunung”,.
Setelah
tenda terpasang dan hujan pun telah berhenti kami pun menjemur barang-barang
yang basah, setelah itu istirahat karena nanti malam nya kami akan mendaki puncak
mahameru, seperti biasa sebelum tidur dalam satu tenda, yang didalamnya
teman-teman seangkatan dan satu kelas kami bercerita tentang apa yang telah
terjadi selama perjalanaan tadi.
MENUJU PUNCAK MAHAMERU
Malam
pun semakin larut dan alarm-alarm handpone pun berbunyi untuk menandakan
persiapan menuju puncak, ah kalau bukan panggilan untuk mencapai impian aku
tidak akan bangun, aku pun langsung bangun dan tak lupa untuk membangunkan yang
lainnya setelah mereka bangun aku bergegas mempersiapkan apa saja yang akan aku
bawa ketika aku di puncak nanti, seperti layaknya seorang calon presiden ketika
ia mau mencalonkan untuk jadi presiden dia harus punya visi dan misi, ketika ia
terpilih menjadi orang no 1 apa yang akan ia lakukan.
Waktu
pun sudah menunjukan puku 00.30 WIT setelah semua siap, tak lupa kami berdoa
agar tidak terjadi apa-apa yang tidak diinginkan. Dari arcopodo kami berjalan
berbaris tapi ketika sudah melewati cemoro tunggal entah kenapa semua pada
berpencar mencari jalan nya masing-masing, mungkin karena medan yang dilaluinya
begitu berat hanya pasir dan batu-batu kerikil, bukan hanya itu kami pun harus
mengikuti pijakan kaki sebelum kita agar tidak terperosot ke bawah, karena jika
di amati kita melangkah dua langkah dan turun satu langkah. Dengan hanya
mengenakan jaket yang didouble jas hujan, tangan ini terasa sangat kaku karena
tidak menggunakan sarung tangan, untunglah tangan kanan ini menggenggam senter
dan yang kiri menarik seorang adik kelas yang mempunyai satu tujuan dan satu
tekad yang sama untuk menaklukan kerasnya mahameru.
Udara
dingin yang menghantam muka dan kaku nya tangan ini membuat badan ini sulit
untuk bergerak, oksigen yang seakan menipis membuatku cepat lelah dan selalu
beristirahat, sampai pada saat dimana aku dan dia salah dalam melangkah di
kemiringan yang kurang lebih mencapai 80 derajat dan hanya pijakan batu kerikil yang ketika aku pijak selalu
turun, setelah berusaha sekuat mungkin dengan waktu yang lama tapi tidak juga
bisa menaklukan medan ini, yang ada dalam pikiran ku hanyalah keluarga yang
menunggu dirumah dan seorang ayah yang akan menjemput anaknya, layaknya ia
menjemput setelah pulang sekolah dan bukan Cuma itu karena aku disini tersesat
bersama dia, aku juga teringat akan kisah perwayangan pandawa 5 yang akan menaklukan
mahameru untuk masuk ke dalam swarga loka, yang ketika itu drupadi (istri
yudisthira) meninggal dipangkuan yudisthira. Terfikirkan kembali oleh ku
sesulit inikah untuk mencapai apa yang kita impikan??
Setelah
berhasil melewati rintangan itu aku pun kembali berjalan dengan pijakan-pijakan
yang perlahan, hampir 100m lagi mencapai puncak nafas ini seakan terasa sangat
tipis dan jantungku berdetak lebih cepat, sambil diam ku berdoa “ya allah..
cobaan apalagi yang akan kau berikan pada ku, aku hanya ingin mewujudkan satu
dari sekian banyak mimpi-mimpiku, kalau pun aku harus mati ditempat keagungan
mu ini aku pun siap”. Dengan tekad dan semangat yang kuat tak terasa aku sudah
sampai di puncak, ya puncak mahameru tapi ketika memasuki puncak tubuh ini seakan
tidak kuat lagi untuk menahan beban ini, aku pun terjatuh dan tertidur sambil
mensyukuri nikmat yang telah allah berikan. Suara teman-teman seperjuangan
memanggil manggil nama ku, aku pun bangkit dan merayakan kemenangan ku ini,
kemenangan bahwa aku telah menjadi orang tertinggi dipulau jawa. Sempat aku
bertanya-tanya untuk mengetahui teman-teman yang lain “dimana yang lain,
mengapa hanya segini”, aku pun kembali berfikir mungkin aku dan teman-teman
yang berada disini adalah orang-orang yang terpilih, seperti layaknya pemilihan
umum presiden, dari sekian banyak orang yang ingin mencalonkan untuk menjadi
seorang presiden tapi hanya ada satu yang akan terpilih untuk menjadi seorang
presiden,.
Tak
terasa matahari pagi telah datang menyinari puncak mahameru, kami pun harus
segera turun karena batas pendakian hanya sampai jam 9 pagi selebihnya gunung
yang indah ini akan berubah menjadi ganas, karena ia akan mengeluarkan semburan
gas beracun. Perjalanan turun kebawah tidak sesulit seperti pandakian, karena
dengan medan kerikil dan pasir ini kita merosot juga suda turun, tetapi aku pun
harus menggandeng adik ku ini karena dia takut akan turunan. Ah.. hari
ini seperti sebuah mimpi, pikir ku. Perjalan turun hanya memakan waktu 30 menit
berbeda dengan pendakian yang sampai memakan waktu 5 jam, inilah kerasnya hidup
ketika kita membangun sesuatu untuk sampai diatas sangatlah sulit, tapi ketika
sudah jatuh dan turun gampang sekali.
KEMBALI KE ARCOPODO
Pasir
dan kerikil yang masuk ke dalam sepatu menghambat perjalananku turun dan
membuat aku untuk membuka dan membersihkan sepatu yang penuh dengan pasir.
Teman-teman yang tadinya turun bersama kini ia malah meninggalkan ku tanpa
maksud yang jelas, yasudahlah ini memang tanggung jawabku untuk membantu
anak-anak agar tidak ada yang tertinggal diatas. Sesampainya dibawah semua
teman-teman telah berkumpul untuk menunggu kedatanganku, seperti layaknya bapak
presiden dan ibu negara yang habis turun dari pesawat terbangnya,.
Dengan
istirahat sebentar dan membasahi mulut agar tidak kering aku pun langsung
bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke camp arcopodo, dalam perjalanan menuju
arcopodo aku tidak terburu-buru karena aku berada dibelakang dan aku ingin
istirahat di alam bebas dan menikmati perjalanan ini tanpa ada yang mengganggu.
Sesampainya
di camp dengan cacing-cacing diperut yang sudah berdemo untuk diberi masukan,
aku pun langsung membuka tas tempat makanan, tapi yang tersisa hanya ada dua
buah kurma dan satu bungkus mie instan yang untuk keperluan sampai esok hari,
ah..tak apalah aku makan kurma ini saja untuk mengganjal perut ini, mungkin
nanti ada orang yang baik hati mau memberi ku makan. Setelah itu aku pun
langsung mempacking barang-barang untuk persiapan kembali ke camp selanjutnya.
Dengan berdiskusi dengan teman-teman satu angkatan yang juga satu tenda untuk
menentukan dimana kita akan camp selanjutnya, dan diputuskanlah untuk camp di
ranu kumbolo lagi. Padahal aku ingin sekali langsung camp diranu pani, pikir
ku.
KEMBALI KE RANU KUMBOLO
Perjalanan
turun dari arcopodo ke ranu kumbolo tidak memakan tenaga yang berlebih, tetapi
dibutuhkan kaki yang kuat untuk menahan tubuh kita. Dalam perjalanan kali ini
aku dan brian bertugas menjadi sweeper, menjadi sweeper saat turun itu
menyenangkan dibandingkan saat naik, ya walaupun istirahatnya sedikit tetapi
kita bisa melihat dan merasakan keindahan alam.
Perjalanan
ini seakan terasa sangat singkat karena dibumbui dengan pembicaraan mengenai
indahnya puncak mahameru dan dirinya. Melewati hamparan bunga eidelweis sampai
memanjat pohon untuk mengambil buahnya yang manis. Tetapi sesampainya di cemoro
kandang hujan turun, aku pun memastikan agar tidak ada yang tertinggal
dibelakang, tapi di depan hanya ada dewi dan dini yang tertinggal yang lainnya
sudah berada jauh didepan. Jujur aku bersama brian menjadi sweeper hanya untuk
menjauh dan tidak ingin merusak hubungan orang, tapi kenapa selalu saja ada
moment untuk bersama.
Dengan
beratapkan matras kami berempat berteduh dibawahnya, sambil menunggu hujan
reda, ya walaupun mereka membawa jas hujan tapi yang seperti ini kebersamaan
akan lebih terasa. Udara dingin yang membuat tangan ini terasa sangat kaku,
melewati oro-oro ombo yang rumputnya tinggi dan jalannya yang becek sehabis
diguyur hujan, melewati tanjakan cinta dengan mitos didalamnya dan melihat
pemandangan ranu kumbolo dari atas tanjakan cinta, membuat aku ingin berteriak
sekencang-kencangnya.
MALAM DI RANU KUMBOLO
Malam
ini adalah malam terakhir sebelum aku kembali ke malang, udara yang dingin dan
hanya ditemani secangkir kopi. Aku duduk di sebuah batang pohon yang telah
tumbang, yang batangnya sampai menjorok ke danau, tak terasa sudah berhari-hari
berada disini, Tapi rasa cinta ini kepada mahameru sulit untuk dipisahkan
aku ingin selalu berada disini, seperti halnya ketika seseorang sudah cinta
apapun itu akan ia lakukan agar ia tetap bersama. Dipinggir danau ini akan aku
utarakan semua cerita perjalanan panjang ini, cerita tentang mimpi-mimpiku,
cerita tentang keindahan danau mu dan cerita tentang kegagahan puncak mahameru.
Setelah
menyendiri dipinggir danau aku pun kembali ke dalam tenda, ternyata anak-anak
belum pada tidur, ah.. mungkin mereka ingin mendengar cerita-cerita ku tentang
hari ini yang sangat indah. Sambil memainkan kartu kita bercerita tentang apa
yang telah didapat selama perjalanan hari ini. Tak terasa malam pun telah
larut, setelah mengatur posisi saatnya kita tidur untuk esok pagi ke camp ranu
pani.
KEMBALI KE RANU PANI
Langit
yang masih gelap dan dingin nya air danau ini membuat tubuh ini menggigil,
sehabis berjalan ke pinggir danau untuk mengambil air wudlu. Setelah sholat
lalu membangunkan yang lain, aku pun langsung berjalan-jalan melihat indahnya
ranu kumbolo di pagi hari sekaligus berpamitan kepada kebesaran ALLAH ini, ya
siapa tau saja suatu saat nanti aku bisa datang kembali ke tempat yang indah
ini. Panasnya matahari membuat ku untuk kembali ke tenda, untuk persiapan
packing kembali ke ranu pani.
Setelah
semua sudah siap dan tidak ada yang tertinggal perjalanan pun dilanjutkan untuk
menuju ranu pani, seperti biasa aku dan brian menjadi sweeper untuk menjaga
jarak dengan dirinya. Setiap perjalanan pasti mempunyai tujuan atau penyemangat
untuk bisa sampai disana dan apa yang ingin dicapai ketika sampai disana,
tetapi penyemangat kali ini kurang masuk akal, yang menjadi penyemangat kali
ini adalah “ nasi rawon” kenapa nasi rawon terpilih menjadi penyemangat kali
ini, karena dari kemarin belum ketemu yang namanya karbonhidrat.
Dengan
track yang naik turun membuat ku bermain kejar-kejaran seperti layaknya maling
yang sedang dikejar warga, aku berlari mengejar brian dengan membawa kayu dan
brian berlari dengan membawa golok sambil berteriak sekencang-kencangnya untuk
melepas kepenatan yang ada, dengan cara itu lah yang membuat kami tidak merasa
capek. Sampai ada pendaki lain yang kesal dan bilang kepada temannya ada anjing
tuh dibelakang makanya saya lari dan ada juga orang yang ingin melerai kita,
mereka pikir kita sedang berantem, kami pun hanya tersenyum mendengar perkataan
orang-orang itu. Tapi yang mengherankan kenapa yang tadi nya jadi sweeper malah
jadi terdepan, mungkin kita terlalu bersemangat karena dari kejauhan nasi rawon
sudah menunggu dan melambai-lambaikan tangannya .
TUMPANG
Sesampainya
di ranu pani yang paling pertama di cari adalah stop kontak, bagaimana caranya
kita bisa menyambung hidup dan mengabari keluarga yang menunggu dirumah,
setelah itu sholat, makan dan melanjutkan perjalanan ke tumpang. Tapi sayang
nya kali ini kita tidak naik mobil impian ku (jeep), melainkan menaiki truck,
layaknya seperti sapi yang akan dibawa keluar kota untuk dijual. Dengan medan
yang tidak bersahabat sehabis diguyur hujan, perjalanan kami pun terhambat dan
kami pun harus turun dari truck untuk mendorong mobil ini agar bisa menanjak,
pokoknya ini pengalaman yang tak terlupakan deh.
Tanpa
menunggu lama, sesampainya ditumpang aku langsung menuju masjid, setelah itu
mencari atm tapi sayangnya yang dicari ga ada. Setelah mencari tapi tidak
membuah kan hasil aku dan teman-teman ‘09 berjalan-jalan dan menemukan makanan
yang aku rasa harganya sulit ditemukan di jakarta, masa iya harga satu mangkok
mie ayam dan jus mangga hanya menghabiskan uang Rp 5000, hidup ini memang keras
teman. Tumpang itu bagian dari kabupaten malang wajarlah kalau harganya masih
terjangkau.
Malam
semakin larut kami pun memutuskan untuk menginap di kota malang, dengan alasan
biar besok bisa langsung naik kereta. Lagi pula aku juga ingin sekali bermalam
disana.
Malang,
sebuah kota yang dapat membuat diriku terhipnotis akan semua keindahan dan
kenyamanan yang disuguhkan, sebuah kota dimana tempatnya para saudara ku,
aremania dan aremanita. Keidahan malang pada malam hari membuatku seakan ingin
tinggal di daerah ini, orang-orangnya yang ramah, serta solidaritasnya yang
tinggi untuk kemajuan kota dan klub sepak bolanya.
Sesampainya
di malang langsung mencari tempat untuk istirahat sampai besok, kalau untuk
cowok sih gampang tidur dimana aja jadi tapi bagaimana dengan yang cewek,
teman-teman ’10 mau cari kamar nih mau ikut ga, dengan gaya so jagoan aku
bilang kepada mereka nanti yang ’09 gampang tidur dimana aja juga jadi. Sambil
menunggu kabar dari teman-teman mengenai tempat, yang cewek jalan-jalan malam
dan makan di angkringan bisa kali dari pada BT ga ada kerjaan kan, ucap ku.
Dengan nada bercanda, mereka pun menyanggupi. Tetapi ketika kami sedang memilih
tempat dan suasana yang enak untuk makan ada seorang bencong, sontak terkejut
kedua temanku zidney dan ibra, mmm.. udah gede masih aja takut sama banci,
pikir ku.
Lagi
enak-enaknya makan ada saja yang menggangu sehingga mereka harus buru-buru ke
penginapan, tapi semua itu terhibur karena ada pengamen yang ga taunya anak the
jak juga, inikah yang dinamakan pulang kampung kerumah saudara sendiri. Setelah
makan kami pun berkeliling menyusuri indahnya malam di kota malang, sampailah
pada suatu taman yang disebut alun-alun kota malang, sambil asyiknya bercerita
tentang pengalaman hari ini kami pun terlelap dan hanya beralaskan aspal. Tak
tahu kapan tidurnya tiba–tiba sudah adzan shubuh saja , langsung saja kami
mencari masjid terdekat , setelah itu pas arah mau ke stasiun kami menemukan
warnet, ngenet dulu bisa kali lumayan tuh Rp 1000, se jam, ucap ku. Lumayan lah
untuk upload photo, buat status dan mencari tempat-tempat wisata terdekat.
Setelah
merundingkan dan mencari-cari tempat yang akan kita tuju, tiba-tiba ada telfon
dari anak-anak katanya ada yang kehilangan sepatu, yasudahlah acara jalan-jalan
hari ini kita cancel saja, masa ketika seorang teman ada yang terkena musibah
kita malah senang-senang. Hari ini terasa seperti ada yang berbeda dengan
orang-orang disekitarku, mungkin kemasukan malaikat alun-alun kali, masa semua
berlaga seperti ustadz. Dan tiba-tiba ada bapak-bapak datang dan memberi
segelas kopi, padahal kita tidak memesan atau memintanya, ini semua menjadi
sebuah tanda tanya besar, ada apa dengan hari ini ?? dan ada apa dengan kota
malang ??.
Matahari
pun sudah berada ditengah, saatnya packing untuk menuju jakarta. Tapi
keliatannya tidak pas kalau habis pergi dari luar kota ga bawa oleh-oleh,
sebenarnya aku bingung mau bawa oleh-oleh apa, ngapain bingung sih, cari aja
yang ada tulisan ” khas” nya, mau murah apa mahal dan mau enak apa ga yang
penting ada bacaan khas kata ibra, udahlah lu beli brem aja sana, sahut zidney
dengan tampang ngeledek. Dari pada pulang dengan tangan kosong aku beli
macam-macam deh.
Akhirnya
kereta yang ditunggu-tunggu pun tiba, kali ini aku berada di gerbong 4 dan
anak-anak ’10 digerbong 6, ya dekatlah kalau BT tinggal loncat. Tapi sepertinya
perjalanan pulang kali ini tidak akan merasa BT seperti saat berangkat, karena
semua keperluan di dalam kereta sudah di siapkan, mulai dari koran, kartu dan
TTS (Teka Teki Silang).
Dan
dari perjalanan panjang inilah aku bisa belajar untuk tidak memaksakan kehendak
ku, mungkin aku hanya bisa bermimpi, tapi segala sesuatunya ALLAH lah yang akan
menentukan.
Dan
yang paling penting adalah saat gue sama dia, gue baru tau dan gue baru
bener-bener ngerasain yang namanya jatuh cinta, ya walaupun hanya bertepuk
sebelah tangan.
#story of us in mahameru










No comments:
Post a Comment