Tuesday, November 20, 2012

Sahabat, cinta dan Mahameru


Semua ini seperti mendapatkan kado yang tak terduga, berawal saat aku dan seorang teman ku untuk pergi kekantin kampus, seperti biasa dan tak lupa untuk menyapa teman-teman lain yang sedang asyik nongkrong, dengan nada bercanda sambil bertanya sedang apa sih, kayanya sedang ada sidang paripurna nih..

Salah seorang dari mereka memberi tahu tentang apa yang sedang dibicarakan dan menawarkan untuk ikut dalam pendakian ke gunung semeru, kurang 2 orang nih.. apa ke semeru, boleh juga tuh.. sejenak aku berfikir dengan ajakan itu, dalam anganku terfikirlah sebuah cita-cita dan mimpi, aku ingin menjadi orang tertinggi, tertinggi dalam segala hal seperti layaknya gunung semeru, sebelum  aku menjadi orang yang tertinggi dalam segala hal aku ingin menaklukan dan berdiri diatas gunung tertinggi dipulau jawa,.

Waktu terasa sangat lama dan tidak sabar untuk menunggu hari keberangkatan, setiap hari dan setiap menyalakan laptop tak lupa aku sempatkan untuk membaca artikel-artikel dan men search tentang keindahan di puncak tertinggi itu, seperti hal nya orang yang sedang jatuh cinta, sebelum tidur selalu membayangkan keindahannya dan aku sedang bermain–main disana sampai–sampai semua yang ku bayangkan terbawa dalam mimpi,.

Seminggu sebelum keberangkatan ini adalah saat pekan UTS, minggu-minggu inilah yang menggoyahkan semangatku untuk bisa mencapai impian yang telah lama aku inginkan, karena masih ada mata kuliah yang belum mengadakan UTS dan fikirku aku tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah ku perbuat dengan dosen itu, ada satu dosen yang sangat aku hormati dengan semua mata kuliah yang beliau ajarkan sangat aku senangi, walaupun kata teman-teman ku dialah dosen yang dingin, dengan sifatnya yang dingin itulah yang menjadikan tantangan bagiku, dan dengan tak terduga akhirnya beliau memberikan UTS nya pada hari yang tepat dan saat itu juga semangatku bangkit untuk mencapai impian ku,.

Hari yang ku nantikan pun telah tiba, tak lupa aku sempatkan untuk datang kerumah ayah dengan tujuan untuk meminta izin darinya, hari itu banyak hal yang mengganggu ku untuk ikut dalam perjalanan, karena sebelum berangkat aku harus kuliah dan mengikuti seminar robot agar aku bisa mencapai mimpi-mimpi ku yang lain, dengan mata yang masih ngantuk karena semalaman belum tidur mengerjakan deadline project yang harus dikumpulkan, untunglah semua itu sudah terencana dengan baik dan akhirnya aku pun ikut dalam perjalanan ini..



Perjalanan kali ini yang ikut hanya 11 orang dari yang semula 13 orang, angkatan ’09 ada 4 orang dan angkatan ’10 ada 7 orang.
Perjalananan panjang ini dimulai dengan menaiki kereta MATARMAJA yang klo ga salah artinya itu malang, blitar, madiun, jakarta. Aku dan teman-teman mendapatkan bangku yang berhadapan dan untungnya ada dua teman kami yang tidak bisa ikut dikarenakan urusan negara, wah makin lega saja bangku ini, aku berada di gerbong 5 dan angkatan ’10 berada di gerbong 1. Perjalanan dari jakarta ke malang kurang lebih memakan waktu 18 jam itu pun klo ban nya ga bocor, kata baehaqi. Didalam perjalanan semua menunjukan perasaannya ada yang galau sama gebetannya, ada yang mikirin kelanjutan dengan pacarnya gara-gara putus nyambung dan ada juga yang nge gombalin cewek lewat sms, pokoknya komplitlah,.

Setelah melewati malam yang dingin dan perjalanan yang sangat panjang, akhirnya pagi pun menyambut kedatangan kereta kami di stasiun malang,. Kita sudah sampai malang nih, dengan bercanda dan sambil mengeluarkan sebuah Kartu tanda anggota yang tak lain adalah kartu jakmania karena aku berfikir bahwa jakmania dan aremania itu salam satu jiwa, seperti halnya ketika sebuah saudara ada yang tersakiti saudara yang lain akan selalu membantunya. aku bicara dengan teman-teman ku, mungkin dengan kartu ini membuat kita mudah berada di kota ini.. 



Dari stasiun malang kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju tumpang, sebuah tempat transit untuk melanjutkan perjalanan menuju semeru dengan menggunakan jeep sekaligus tempat untuk membuat perizinan. Karena pendakian kami bersamaan dengan adanya suatu acara dari salah satu sponsor peralatan hiking perizinan kami yang dari independent pun di persulit, yasudahlan sambil menunggu rapat dari petinggi – petinggi yang punya wewenang disana lebih baik aku dan teman ku berjalan mengitari indahnya daerah ini sambil mencari masjid terdekat untuk sholat, di dalam masjid banyak sekali tulisan-tulisan yang membuat aku untuk berfikir dua kali.
 

setelah menjalankan kewajiban aku pun melanjutkan perjalanan, tak disangka dari tempat transit ini ada sebuah marka jalan yang menunjukan candi, ah Cuma 200m nih ayo kita ikuti, rupanya nama nya candi jago yang didirikan pada masa kerajaan singasari, dan tak lupa setiap ada moment dan pemandangan yang bagus aku selalu mengeluarkan kamera, sekalian gaya dikit layaknya seperti seorang selebritis.


Setelah lelah mengelilingi tumpang aku pun kembali untuk melihat keadaan di lokasi jeep, ngomong-ngomong mobil jeep aku jadi terfikir untuk bermimpi mempunyai mobil ini. Sesampainya ditempat jeep rupanya belum dapat izin keberangkatan juga. Setelah menunggu ber jam-jam, hari pun sudah hampir sore dan supir jeep pun datang dengan membawa kabar gembira bahwa kita sudah mendapat izin untuk berangkat tapi tidak sampai disini, kita pun harus menunggu lagi dipos tumpang untuk perizinan pendakian, ah sesulit itukah hanya untuk menjadi orang tertinggi,.

Setelah hampir satu jam menunggu di bawah gerimisnya hujan kami pun mendapat perizinan untuk pendakian ya walaupun hanya sampai kali mati, tapi apapun rintangan dan masalah yang kan ku hadapi, aku harus sampai puncak dan menjadi orang tertinggi di jawa,.

Perjalananpun di lanjutkan, perjalanan dari tumpang menuju ranu pani kurang lebih 2 jam itu pun klo tidak ada masalah, ya namanya juga masalah bisa datang kapan saja, aku memilih duduk dibelakang dibandingkan berdiri, karena biar bisa melihat semua keindahan yang di sajikan. Pemandangan bromo yang yang menakjubkan dan suku tengger yang ramah membuat aku ingin turun dari mobil ini, untung nya ada sebuah jeep didepan mobil kami yang ban nya bocor, dengan jalan yang sempit terpaksa mobil yang kami tumpangi pun harus berhenti. Tanpa basa-basi aku pun langsung turun dari mobil dan menikmati keindahaan gunung bromo,.

WELCOME TO RANU PANI


setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya kami pun tiba di pos pertama, pos ranu pani sayangnya kami sampai pos ranu pani sudah malam sehingga tidak bisa merasakan keindahan danau nya, ah mungkin besok atau setelah turun dari puncak aku bisa merasakan keindahannya,.

Rasa penantian dan tidak sabar menghantui pikiran ku untuk melanjutkan ke pos berikutnya yaitu ranu kumbolo, aku ingin cepat-cepat sampai sana melihat keindahan esok pagi di ranu kumbolo. Tapi rasa penantian itu pun berubah menjadi sebuah emosi karena teman-teman ku sudah kelelahan dan tertidur, dari pada rasa emosi ini terus memuncak aku putuskan untuk keluar dan mencari perapian untuk menghangatkan badan, terlintas sebuah pemikiran seperti ada yang membisikan ku, kamu tidak boleh egois kamu itu datang kesini bersama-sama dan pulang pun harus bersama, lain hal nya jika kamu datang sendiri kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau tanpa ada yang menghalangi dan mengganggu mu, lagi pula jalan menuju ranu kumbolo itu sangat jauh dan memakan waktu yang lama belum lagi jalan yang licin sehabis di guyur hujan dan kanan kirinya jurang, dari sini lah aku putuskan untuk tidak mempermasalahkannya lagi aku datang kesini untuk bersenang-senang dan merefresh otak ku yang telah mengebul setelah melaksanakan UTS. Tak lama berselang ada mas-mas yang datang dan duduk disebelah ku, percakapan pun dimulai..
+ Dari mana mas ::  saya dari bali ..
+ Ya lumayan deket lah, pikir ku ..
+ Kok lum berangkat mas :: ini saya lagi nunggu teman biasa kenal di facebook dia mau kesini  bareng..
- Lah kamu sendiri lum berangkat :: besok kali mas sekarang anak-anak udah pada kelelahan dan tertidur, pengennya sih berangkat sekarang tapi mau gimana lagi..
- Ya bagus lah, gitu-gitu juga teman kita, coba klo saya ga setia kawan mungkin teman-teman saya yang belum datang sudah saya tinggal..
Ih sadis nih omongan, sepertinya malam ini banyak banget malaikat yang menghantui ku, coba bayangkan yang baru kenal di facebook dan belum pernah ketemu aja udah bisa bilang kaya gitu,.
Setelah percakapan yang panjang lebar dan kesana kemari aku pun aku pun memutuskan untuk tidur.

Tak terasa pagi pun datang setelah sholat akupun langsung berjalan mengelilingi ranu pani, dengan udara yang masih segar dan embun pagi yang berjatuhan di dedaunan membuat aku betah berada di sini. Mentari pagi pun datang menyinari, aku pun langsung mem packing barang-barang untuk melanjutkan perjalanan ke ranu kumbolo,.

Perjalanan dari ranu pani ke ranu kumbolo itu memakan waktu 4 jam, perjalanan yang menguras tenaga dan setiap kali ada pos atau pun tempat yang sekira ada pemandangan yang bagus kami pun berhenti untuk minum-minum dan ber foto-foto, terfikir sejenak mungkin inilah yang akan ALLAH berikan kepadaku sehingga aku di suruh untuk menunggu berangkat pagi, dengan berangkat pagi aku bisa melihat pemandangan-pemandangan yang indah dan bisa merasakan kenyamanan teman-teman yang layaknya seperti saudara.

Dengan langkah yang tertatih-tatih dan nafas yang ngos-ngosan tiba-tiba dari setelah tikungan ada sebuah dorongan semangat baru untuk cepat-cepat sampai ke sana, ya tidak lain pemberi semangat itu adalah ranu kumbolo, terlihat dari atas bukit air nya yang hijau dengan di kanan dan kirinya bukit-bukit, subhanallah ya ini adalah kebesaran mu dan inilah yang dinamakan surga dunia,.

RANU KUMBOLO




Terlihat dan terbaca “selamat datang di ranu kumbolo” jadi ini lho yang dari kemarin aku impikan, bermain, menikmati dingin nya air dan bersantai di pinggir ranu kumbolo. Sepertinya kita harus bermalam disini untuk menikmati sunset dan sunrise di ranu kumbolo. Tiba-tiba badan dan tubuh ini terasa lemas, kepala terasa sakit dan tak tahan dengan semua ini aku langsung berjalan ke posko untuk beristirahat, rasa ingin bermain aku tinggalkan dahulu yang penting aku sudah berada di ranu kumbolo, masih banyak waktu untuk bermain disini,.

Tak terasa aku pun sampai tertidur sampai 2 jam untungnya seorang teman ku mencari dan membangunkan aku, kalau tidak dibangunkan malah keterusan tidur tuh soalnya mimpinya lagi bagus eh tapi belum sampai endingnya udah dibangunin jadi ga seru deh, tapi tidak apa-apa dengan begitu aku bisa mempunyai waktu untuk menikmati indahnya ranu kumbolo di sore hari,.

Setelah menikmati dinginnya air ranu kumbolo aku pun ditantang oleh temanku untuk menaiki tanjakan cinta, tanjakan cinta ini berada dididepan ranu kumbolo yang katanya tanjakan cinta ini memiliki mitos kalau kita bisa menaiki tanjakan ini tanpa berhenti dan tanpa menengok ke belakang apa yang kita ucapkan akan terwujud, ah semua ini hanya mitos bagiku kalau emang udah jodoh juga ga kemana dan semua itu tergantung dari usaha kita. Setelah sampai ditengah tanjakan ini nafasku sudah ngos-ngosan padahal ga bawa apa-apa tapi dari sini aku mendapat pelajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan itu tidak mudah, kita harus bersusah-susah dulu baru bersenang-senang kemudian..

Malam yang bertaburan bintang, udara yang dingin dan ditemani kopi hitam yang panas menjadikan malam ini terasa panjang. Kami semua berkumpul dipinggir danau untuk bertukar pikiran dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang telah di hadapi sambil menikmati alunan musik dari jamaica (reggae),.

Pagi yang indah pun datang, tapi sayangnya sunrise yang ditunggu-tunggu letak nya tidak tepat mungkin karena perputaran bulan yang menyebabkan mataharinya berpindah tempat. Setelah sarapan dan packing kami pun melanjutkan perjalanan menuju kalimati, karena di kalimati tidak ada air dan sumber airnya sangat jauh kami pun berinisiatif untuk membawa air sebanyak mungkin dari ranu kumbolo untuk persiapan agar tidak terjadi apa-apa disana.

Perjalanan dari ranu kumbolo ke kali mati memakan waktu 3-4 jam perjalanan, tapi perjalanan kali ini sangat mengasyikan karena kami disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang indah, oro-oro ombo yang rumputnya setinggi orang dewasa, cemoro kandang yang dikelilingi dengan pohon cemara nya membuat perjalanan ini tidak terasa capek,setelah melewati cemoro kandang barulah kita sampai di kali mati di sini banyak sekali kita temukan bunga eidelweis, bunga abadi, bunga yang tidak akan pernah mati,.




Dari kali mati ini sudah terlihat gunung tertinggi di pulau jawa, gunung yang akan aku taklukan, dalam hati aku bicara “aku harus bisa berada disana, di puncak tertinggi mahameru” sambil menunjuk ke atas..

Setelah sampai kalimati rupanya kita tidak boleh camp disini, karena di kalimati sedang ada acara yang diadakan oleh sponsor yang hanya mengutamakan keuntungan tanpa melihat sisi lain dari pendaki independent dan gara-gara sponsor inilah yang membuat perizinan kita dipersulit. Kita bisa saja camp di kali mati tapi kalau kita camp disini kita tidak bisa melanjutkan pendakian sampai puncak, karena nanti malam ranger-ranger sudah bersiap untuk menghadang para pendaki, oleh sebab itu jika kita mau mendaki sampai puncak kita berjalan lagi kurang lebih 1 jam untuk camp di arcopodo.

Dengan tekat dan semangat untuk mencapai mahameru apapun itu akan aku lakukan, jalan yang terjal dengan pasir-pasirnya dan dikelilingi jurang membuat aku harus berhati-hati dalam melangkah karena daerah ini adalah rawan longsor, sesekali aku istirahat untuk mengatur nafas, setapak demi setapak akhirnya aku pun sampai di arcopodo sambil menunggu yang bawa tenda datang aku dan yang lainnya membuat penampungan air karena kabut mulai datang dan cuacanya mendung.. Hujan pun turun tapi yang bawa tenda tak kunjung datang dalam hati ingin berkata “yes.. kapan lagi main hujan-hujanan diatas gunung”,.

Setelah tenda terpasang dan hujan pun telah berhenti kami pun menjemur barang-barang yang basah, setelah itu istirahat karena nanti malam nya kami akan mendaki puncak mahameru, seperti biasa sebelum tidur dalam satu tenda, yang didalamnya teman-teman seangkatan dan satu kelas kami bercerita tentang apa yang telah terjadi selama perjalanaan tadi.

MENUJU PUNCAK MAHAMERU

Malam pun semakin larut dan alarm-alarm handpone pun berbunyi untuk menandakan persiapan menuju puncak, ah kalau bukan panggilan untuk mencapai impian aku tidak akan bangun, aku pun langsung bangun dan tak lupa untuk membangunkan yang lainnya setelah mereka bangun aku bergegas mempersiapkan apa saja yang akan aku bawa ketika aku di puncak nanti, seperti layaknya seorang calon presiden ketika ia mau mencalonkan untuk jadi presiden dia harus punya visi dan misi, ketika ia terpilih menjadi orang no 1 apa yang akan ia lakukan.

Waktu pun sudah menunjukan puku 00.30 WIT setelah semua siap, tak lupa kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa yang tidak diinginkan. Dari arcopodo kami berjalan berbaris tapi ketika sudah melewati cemoro tunggal entah kenapa semua pada berpencar mencari jalan nya masing-masing, mungkin karena medan yang dilaluinya begitu berat hanya pasir dan batu-batu kerikil, bukan hanya itu kami pun harus mengikuti pijakan kaki sebelum kita agar tidak terperosot ke bawah, karena jika di amati kita melangkah dua langkah dan turun satu langkah. Dengan hanya mengenakan jaket yang didouble jas hujan, tangan ini terasa sangat kaku karena tidak menggunakan sarung tangan, untunglah tangan kanan ini menggenggam senter dan yang kiri menarik seorang adik kelas yang mempunyai satu tujuan dan satu tekad yang sama untuk menaklukan kerasnya mahameru.

Udara dingin yang menghantam muka dan kaku nya tangan ini membuat badan ini sulit untuk bergerak, oksigen yang seakan menipis membuatku cepat lelah dan selalu beristirahat, sampai pada saat dimana aku dan dia salah dalam melangkah di kemiringan yang kurang lebih mencapai 80 derajat dan hanya pijakan batu kerikil yang ketika aku pijak selalu turun, setelah berusaha sekuat mungkin dengan waktu yang lama tapi tidak juga bisa menaklukan medan ini, yang ada dalam pikiran ku hanyalah keluarga yang menunggu dirumah dan seorang ayah yang akan menjemput anaknya, layaknya ia menjemput setelah pulang sekolah dan bukan Cuma itu karena aku disini tersesat bersama dia, aku juga teringat akan kisah perwayangan pandawa 5 yang akan menaklukan mahameru untuk masuk ke dalam swarga loka, yang ketika itu drupadi (istri yudisthira) meninggal dipangkuan yudisthira. Terfikirkan kembali oleh ku sesulit inikah untuk mencapai apa yang kita impikan??

Setelah berhasil melewati rintangan itu aku pun kembali berjalan dengan pijakan-pijakan yang perlahan, hampir 100m lagi mencapai puncak nafas ini seakan terasa sangat tipis dan jantungku berdetak lebih cepat, sambil diam ku berdoa “ya allah.. cobaan apalagi yang akan kau berikan pada ku, aku hanya ingin mewujudkan satu dari sekian banyak mimpi-mimpiku, kalau pun aku harus mati ditempat keagungan mu ini aku pun siap”. Dengan tekad dan semangat yang kuat tak terasa aku sudah sampai di puncak, ya puncak mahameru tapi ketika memasuki puncak tubuh ini seakan tidak kuat lagi untuk menahan beban ini, aku pun terjatuh dan tertidur sambil mensyukuri nikmat yang telah allah berikan. Suara teman-teman seperjuangan memanggil manggil nama ku, aku pun bangkit dan merayakan kemenangan ku ini, kemenangan bahwa aku telah menjadi orang tertinggi dipulau jawa. Sempat aku bertanya-tanya untuk mengetahui teman-teman yang lain “dimana yang lain, mengapa hanya segini”, aku pun kembali berfikir mungkin aku dan teman-teman yang berada disini adalah orang-orang yang terpilih, seperti layaknya pemilihan umum presiden, dari sekian banyak orang yang ingin mencalonkan untuk menjadi seorang presiden tapi hanya ada satu yang akan terpilih untuk menjadi seorang presiden,.





Tak terasa matahari pagi telah datang menyinari puncak mahameru, kami pun harus segera turun karena batas pendakian hanya sampai jam 9 pagi selebihnya gunung yang indah ini akan berubah menjadi ganas, karena ia akan mengeluarkan semburan gas beracun. Perjalanan turun kebawah tidak sesulit seperti pandakian, karena dengan medan kerikil dan pasir ini kita merosot juga suda turun, tetapi aku pun harus menggandeng adik ku ini karena dia takut akan turunan.  Ah.. hari ini seperti sebuah mimpi, pikir ku. Perjalan turun hanya memakan waktu 30 menit berbeda dengan pendakian yang sampai memakan waktu 5 jam, inilah kerasnya hidup ketika kita membangun sesuatu untuk sampai diatas sangatlah sulit, tapi ketika sudah jatuh dan turun gampang sekali.

KEMBALI KE ARCOPODO

Pasir dan kerikil yang masuk ke dalam sepatu menghambat perjalananku turun dan membuat aku untuk membuka dan membersihkan sepatu yang penuh dengan pasir. Teman-teman yang tadinya turun bersama kini ia malah meninggalkan ku tanpa maksud yang jelas, yasudahlah ini memang tanggung jawabku untuk membantu anak-anak agar tidak ada yang tertinggal diatas. Sesampainya dibawah semua teman-teman telah berkumpul untuk menunggu kedatanganku, seperti layaknya bapak presiden dan ibu negara yang habis turun dari pesawat terbangnya,.

Dengan istirahat sebentar dan membasahi mulut agar tidak kering aku pun langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke camp arcopodo, dalam perjalanan menuju arcopodo aku tidak terburu-buru karena aku berada dibelakang dan aku ingin istirahat di alam bebas dan menikmati perjalanan ini tanpa ada yang mengganggu.

Sesampainya di camp dengan cacing-cacing diperut yang sudah berdemo untuk diberi masukan, aku pun langsung membuka tas tempat makanan, tapi yang tersisa hanya ada dua buah kurma dan satu bungkus mie instan yang untuk keperluan sampai esok hari, ah..tak apalah aku makan kurma ini saja untuk mengganjal perut ini, mungkin nanti ada orang yang baik hati mau memberi ku makan. Setelah itu aku pun langsung mempacking barang-barang untuk persiapan kembali ke camp selanjutnya. Dengan berdiskusi dengan teman-teman satu angkatan yang juga satu tenda untuk menentukan dimana kita akan camp selanjutnya, dan diputuskanlah untuk camp di ranu kumbolo lagi. Padahal aku ingin sekali langsung camp diranu pani, pikir ku.

KEMBALI KE RANU KUMBOLO


Perjalanan turun dari arcopodo ke ranu kumbolo tidak memakan tenaga yang berlebih, tetapi dibutuhkan kaki yang kuat untuk menahan tubuh kita. Dalam perjalanan kali ini aku dan brian bertugas menjadi sweeper, menjadi sweeper saat turun itu menyenangkan dibandingkan saat naik, ya walaupun istirahatnya sedikit tetapi kita bisa melihat dan merasakan keindahan alam.

Perjalanan ini seakan terasa sangat singkat karena dibumbui dengan pembicaraan mengenai indahnya puncak mahameru dan dirinya. Melewati hamparan bunga eidelweis sampai memanjat pohon untuk mengambil buahnya yang manis. Tetapi sesampainya di cemoro kandang hujan turun, aku pun memastikan agar tidak ada yang tertinggal dibelakang, tapi di depan hanya ada dewi dan dini yang tertinggal yang lainnya sudah berada jauh didepan. Jujur aku bersama brian menjadi sweeper hanya untuk menjauh dan tidak ingin merusak hubungan orang, tapi kenapa selalu saja ada moment untuk bersama.

Dengan beratapkan matras kami berempat berteduh dibawahnya, sambil menunggu hujan reda, ya walaupun mereka membawa jas hujan tapi yang seperti ini kebersamaan akan lebih terasa. Udara dingin yang membuat tangan ini terasa sangat kaku, melewati oro-oro ombo yang rumputnya tinggi dan jalannya yang becek sehabis diguyur hujan, melewati tanjakan cinta dengan mitos didalamnya dan melihat pemandangan ranu kumbolo dari atas tanjakan cinta, membuat aku ingin berteriak sekencang-kencangnya.

MALAM DI RANU KUMBOLO

Malam ini adalah malam terakhir sebelum aku kembali ke malang, udara yang dingin dan hanya ditemani secangkir kopi. Aku duduk di sebuah batang pohon yang telah tumbang, yang batangnya sampai menjorok ke danau, tak terasa sudah berhari-hari berada disini,  Tapi rasa cinta ini kepada mahameru sulit untuk dipisahkan aku ingin selalu berada disini, seperti halnya ketika seseorang sudah cinta apapun itu akan ia lakukan agar ia tetap bersama. Dipinggir danau ini akan aku utarakan semua cerita perjalanan panjang ini, cerita tentang mimpi-mimpiku, cerita tentang keindahan danau mu dan cerita tentang kegagahan puncak mahameru.

Setelah menyendiri dipinggir danau aku pun kembali ke dalam tenda, ternyata anak-anak belum pada tidur, ah.. mungkin mereka ingin mendengar cerita-cerita ku tentang hari ini yang sangat indah. Sambil memainkan kartu kita bercerita tentang apa yang telah didapat selama perjalanan hari ini. Tak terasa malam pun telah larut, setelah mengatur posisi saatnya kita tidur untuk esok pagi ke camp ranu pani.

KEMBALI KE RANU PANI

Langit yang masih gelap dan dingin nya air danau ini membuat tubuh ini menggigil, sehabis berjalan ke pinggir danau untuk mengambil air wudlu. Setelah sholat lalu membangunkan yang lain, aku pun langsung berjalan-jalan melihat indahnya ranu kumbolo di pagi hari sekaligus berpamitan kepada kebesaran ALLAH ini, ya siapa tau saja suatu saat nanti aku bisa datang kembali ke tempat yang indah ini. Panasnya matahari membuat ku untuk kembali ke tenda, untuk persiapan packing kembali ke ranu pani.

Setelah semua sudah siap dan tidak ada yang tertinggal perjalanan pun dilanjutkan untuk menuju ranu pani, seperti biasa aku dan brian menjadi sweeper untuk menjaga jarak dengan dirinya. Setiap perjalanan pasti mempunyai tujuan atau penyemangat untuk bisa sampai disana dan apa yang ingin dicapai ketika sampai disana, tetapi penyemangat kali ini kurang masuk akal, yang menjadi penyemangat kali ini adalah “ nasi rawon” kenapa nasi rawon terpilih menjadi penyemangat kali ini, karena dari kemarin belum ketemu yang namanya karbonhidrat.

Dengan track yang naik turun membuat ku bermain kejar-kejaran seperti layaknya maling yang sedang dikejar warga, aku berlari mengejar brian dengan membawa kayu dan brian berlari dengan membawa golok sambil berteriak sekencang-kencangnya untuk melepas kepenatan yang ada, dengan cara itu lah yang membuat kami tidak merasa capek. Sampai ada pendaki lain yang kesal dan bilang kepada temannya ada anjing tuh dibelakang makanya saya lari dan ada juga orang yang ingin melerai kita, mereka pikir kita sedang berantem, kami pun hanya tersenyum mendengar perkataan orang-orang itu. Tapi yang mengherankan kenapa yang tadi nya jadi sweeper malah jadi terdepan, mungkin kita terlalu bersemangat karena dari kejauhan nasi rawon sudah menunggu dan melambai-lambaikan tangannya .

TUMPANG

Sesampainya di ranu pani yang paling pertama di cari adalah stop kontak, bagaimana caranya kita bisa menyambung hidup dan mengabari keluarga yang menunggu dirumah, setelah itu sholat, makan dan melanjutkan perjalanan ke tumpang. Tapi sayang nya kali ini kita tidak naik mobil impian ku (jeep), melainkan menaiki truck, layaknya seperti sapi yang akan dibawa keluar kota untuk dijual. Dengan medan yang tidak bersahabat sehabis diguyur hujan, perjalanan kami pun terhambat dan kami pun harus turun dari truck untuk mendorong mobil ini agar bisa menanjak, pokoknya ini pengalaman yang tak terlupakan deh.

Tanpa menunggu lama, sesampainya ditumpang aku langsung menuju masjid, setelah itu mencari atm tapi sayangnya yang dicari ga ada. Setelah mencari tapi tidak membuah kan hasil aku dan teman-teman ‘09 berjalan-jalan dan menemukan makanan yang aku rasa harganya sulit ditemukan di jakarta, masa iya harga satu mangkok mie ayam dan jus mangga hanya menghabiskan uang Rp 5000, hidup ini memang keras teman. Tumpang itu bagian dari kabupaten malang wajarlah kalau harganya masih terjangkau.

MALANG



Malam semakin larut kami pun memutuskan untuk menginap di kota malang, dengan alasan biar besok bisa langsung naik kereta. Lagi pula aku juga ingin sekali bermalam disana.

Malang, sebuah kota yang dapat membuat diriku terhipnotis akan semua keindahan dan kenyamanan yang disuguhkan, sebuah kota dimana tempatnya para saudara ku, aremania dan aremanita. Keidahan malang pada malam hari membuatku seakan ingin tinggal di daerah ini, orang-orangnya yang ramah, serta solidaritasnya yang tinggi untuk kemajuan kota dan klub sepak bolanya.

Sesampainya di malang langsung mencari tempat untuk istirahat sampai besok, kalau untuk cowok sih gampang tidur dimana aja jadi tapi bagaimana dengan yang cewek, teman-teman ’10 mau cari kamar nih mau ikut ga, dengan gaya so jagoan aku bilang kepada mereka nanti yang ’09 gampang tidur dimana aja juga jadi. Sambil menunggu kabar dari teman-teman mengenai tempat, yang cewek jalan-jalan malam dan makan di angkringan bisa kali dari pada BT ga ada kerjaan kan, ucap ku. Dengan nada bercanda, mereka pun menyanggupi. Tetapi ketika kami sedang memilih tempat dan suasana yang enak untuk makan ada seorang bencong, sontak terkejut kedua temanku zidney dan ibra, mmm.. udah gede masih aja takut sama banci, pikir ku.

Lagi enak-enaknya makan ada saja yang menggangu sehingga mereka harus buru-buru ke penginapan, tapi semua itu terhibur karena ada pengamen yang ga taunya anak the jak juga, inikah yang dinamakan pulang kampung kerumah saudara sendiri. Setelah makan kami pun berkeliling menyusuri indahnya malam di kota malang, sampailah pada suatu taman yang disebut alun-alun kota malang, sambil asyiknya bercerita tentang pengalaman hari ini kami pun terlelap dan hanya beralaskan aspal. Tak tahu kapan tidurnya tiba–tiba sudah adzan shubuh saja , langsung saja kami mencari masjid terdekat , setelah itu pas arah mau ke stasiun kami menemukan warnet, ngenet dulu bisa kali lumayan tuh Rp 1000, se jam, ucap ku. Lumayan lah untuk upload photo, buat status dan mencari tempat-tempat wisata terdekat.

Setelah merundingkan dan mencari-cari tempat yang akan kita tuju, tiba-tiba ada telfon dari anak-anak katanya ada yang kehilangan sepatu, yasudahlah acara jalan-jalan hari ini kita cancel saja, masa ketika seorang teman ada yang terkena musibah kita malah senang-senang. Hari ini terasa seperti ada yang berbeda dengan orang-orang disekitarku, mungkin kemasukan malaikat alun-alun kali, masa semua berlaga seperti ustadz. Dan tiba-tiba ada bapak-bapak datang dan memberi segelas kopi, padahal kita tidak memesan atau memintanya, ini semua menjadi sebuah tanda tanya besar, ada apa dengan hari ini ?? dan ada apa dengan kota malang ??.

Matahari pun sudah berada ditengah, saatnya packing untuk menuju jakarta. Tapi keliatannya tidak pas kalau habis pergi dari luar kota ga bawa oleh-oleh, sebenarnya aku bingung mau bawa oleh-oleh apa, ngapain bingung sih, cari aja yang ada tulisan ” khas” nya, mau murah apa mahal dan mau enak apa ga yang penting ada bacaan khas kata ibra, udahlah lu beli brem aja sana, sahut zidney dengan tampang ngeledek. Dari pada pulang dengan tangan kosong aku beli macam-macam deh.

Akhirnya kereta yang ditunggu-tunggu pun tiba, kali ini aku berada di gerbong 4 dan anak-anak ’10 digerbong 6, ya dekatlah kalau BT tinggal loncat. Tapi sepertinya perjalanan pulang kali ini tidak akan merasa BT seperti saat berangkat, karena semua keperluan di dalam kereta sudah di siapkan, mulai dari koran, kartu dan TTS (Teka Teki Silang).

Sesekali aku berdiri disambungan untuk cari angin, tapi sepertinya kereta yang aku tumpangi ini akan ngaret sampai jakarta soalnya setiap stasiun berhentinya lama sekali, tidak seperti saat berangkat. Setelah menempuh waktu 20 jam perjalanan kami pun tiba di stasiun pasar senen, dan disinilah tempat kami semua berpisah dan tempat kami mengakhiri perjalanan panjang ini.



Dan dari perjalanan panjang inilah aku bisa belajar untuk tidak memaksakan kehendak ku, mungkin aku hanya bisa bermimpi, tapi segala sesuatunya ALLAH lah yang akan menentukan.

terima kasih untuk ALLAH SWT yang selalu melindungi dan menjagaku, ayah ku yang selalu menemaniku sambil tersenyum dari syurga, ibu dan kakak-kakak ku yang selalu mengajari ku tentang bagaimana kerasnya hidup, dan teman-teman seperjuangan yang selalu menyemangatiku. Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa dan jangan pernah puas sampai disini, beranilah bermimpi. masih banyak mimpi-mimpi yang harus diselesaikan.



Dan yang paling penting adalah saat gue sama dia, gue baru tau dan gue baru bener-bener ngerasain yang namanya jatuh cinta, ya walaupun hanya bertepuk sebelah tangan.

 #story of us in mahameru

    Niko Prayogo_7020





No comments:

Post a Comment