Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah Wallahu Akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah Wallahu Akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd
Perasaan senang, sedih selalu terjadi
disetiap malam-malam takbir seperti ini,.
Senang, karena sebentar lagi kita
akan menyambut hari kemenangan, walaupun dalam hati belum merasa menang, karena masih banyak kesalahan-kesalahan yang telah ku perbuat. Setelah sebulan lamanya berpuasa, menjalankan
amalan-amalan untuk mendapatkan keridhaan Allah, esok saatnya kita
bermaaf-maafan untuk kembali suci lagi seperti layaknya bayi yang baru terlahir
di dunia..
Hidup ini seperti layaknya sebuah
buku, kita terlahir dalam keadaan suci, putih dan bersih, belum ada
coretan-coretan ataupun catatan didalamnya. Seiring berjalannya waktu
lambat-laun buku yang putih bersih ini akan dipenuhi oleh coretan-coretan
ataupun catatan, catatan baik maupun buruk semua tertulis didalamnya, dan
amalan-amalan baik serta perintah-perintah Nya lah yang akan menjadi
penghapusnya.
Sedih , karena bulan yang penuh
berkah ini akan meninggalkan kita, bulan ramadhan bulan yang mulia, neraka
tertutup dan pintu surga terbuka, tobat akan selalu insya allah diterima,
tinggal kita yang harus terus berusaha.
Ketika bulan ramadhan akan
meninggalkan kita, terbesit dalam pikiranku sebuah pertanyaan. Akankan kita
bisa berjumpa kembali di bulan ramadhan yang akan datang..??
Perasaan senang dan sedih ini seakan
menjadi haru setiap malam takbir. Dalam sunyinya malam yang terdengar hanyalah
suara bedug dan takbir yang terus berkumandang, perasaan ini seakan membuat hati
terus bergetar. Teringat akan orang-orang terdekat dan tersayang yang telah
mendahului kita, menambah rasa haru ini semakin menjadi, tetesan air mata
seakan keluar membasahi pipi, wangi bunga sedap malam yang diletakan diruang
tamu seakan menambah rasa rindu ingin bertemu. Rindu akan seseorang yang sangat
aku hormati dan aku cintai, tapi Allah lebih menyayanginya sehingga ia
dipanggil lebih dulu.
Teringat akan semua kenangan
bersamanya, omelan-omelan dan nasihat yang keluar dari mulutnya menjadikanku
untuk berfikir dahulu sebelum bertindak.
“ Ayah “
aku rindu, aku ingin sekali bertemu dengan mu, semoga kau selalu tersenyum bahagia
melihat ku dari surga.
No comments:
Post a Comment